Episode 4: Kantor Lama Bupati Manatuto, Kecamatan Laclubar

Kantor Lama Bupati Manatuto

Kecamatan Laclubar, Manatuto

Sesaat saya memasuki Laclubar, saya dijumpai oleh bukit-bukit landai yang di tumpu oleh rumah-rumah rendah. Kondisinya bermacam-macam: beberapa darinya masih layak huni, dan sisanya hampir setengah hancur. Salah satunya pernah berfungi sebagai kantor bupati Manatuto.

Tidaklah mudah menemui orang yg paham akan sejarah daerah ini, apalagi bangunan ini. Orang-orang disini sepertinya tidak tahu menahu. Tapi akhirnya pencarianku menunjukan hasilnya ketika saya bertemu Pak Joao Maria De Cristo Rei*. Kami sempat berbincang sedikit mengenai bangunan ini yang –sepertinya sudah menjadi suatu hal yang lumrah- mempunyai hubungan erat dengan sejarah Manatuto dan konflik di Timor Leste. Cerita bangunan ini, bisa dibilang, adalah cerita mengenai sebentuk saksi bisu sejarah yang terehabilitasi terlalu sering.

Mari kita mundurkan waktu sebentar. Di pertengahan awal abad ke-20, Manatuto adalah suatu wilayah dengan kepadatan penduduk yang sangat rendah. Manatuto mempunyai dua kecamatan (sekarang ada enam), salah satunya berfungsi sebagai ibukota, Laclubar. Di tahun 1942, Jepang menjajah Timor Leste dan dengan cepat membuat pangkalan militer di Manatuto. Kestrategisan lokasi Manatuto memungkinkan Jepang untuk melancarkan gerakan dan serangan mereka ke kabupaten-kabupaten di sisi Timur lainnya seperti Baucau, Viqueque dan Lospalos. Karena hal ini, Jepang memberlakukan sistem kerja paksa untuk pembuatan jalan yang menyambungkan Manatuto dengan kabupaten-kabupaten lainnya. Setelah kepergian Jepang tanggal 17 Agustus 1945, Timor Leste termasuk Manatuto kembali ke kekuasaan Portugal, yang meneruskan sistem kerja paksanya.

Di tahun 1955, kecamatan Manatuto (dibawah kabupaten Manatuto) dibentuk dan difungsikan sebagai ibukota. Dikarenakan perubahan ini, maka diperlukanlah sebuah kantor untuk bupati. Pembangunannya dikerjakan oleh masyarakat setempat dengan penerapan sistem rotasi tiap dua minggu. Ada dua orang yang berperan dalam perancangan bangunan ini: satu orang lokal (saya tidak tahu apakah ia penduduk Manatuto atau bukan, tapi ini mungkin saja) dan satu orang Portugis. Total konstruksi memakan waktu tiga tahun, dan begitu selesai langsung digunakan sebagai kantor bupati Kabupaten Manatuto.

Bangunan ini menjadi suatu ikon penting di daerah setempat dan digunakan untuk berbagai macam urusan negara untuk sepuluh tahun kedepan sampai 1968, ketika tiba-tiba bangunan ini runtuh! Tahun berikutnya, bangunannya di rehabilitasi dan disulap menjadi pondok penginapan untuk tamu-tamu penting negara.

Di tahun 1974, perang saudara meluber sampai ke Manatuto dan gedung ini pun ikut terbakar dan hancur. Militer Indonesia yang datang di akhir 1975 sempat memperbaiki gedung ini sedikit untuk dijadikan landasan kamp selama dua tahun. Ketika kontrol terhadap area sudah aman, bupati Abilio Osoriu Soares kembali merehabilitasi gedung ini untuk tetap menjaganya sebagai pondok penginapan. Ini tapi tidak berlangsung lama karena pemerintah Indonesia memutuskan untuk menelantarkannya, dikarenakan kondisi saat itu yang tidak memungkinkan untuk menggunakan bangunan ini sebaik yang diinginkan.

Kondisi gedung ini perlahan memburuk (walaupun masih layak huni) sampai tahun 1999 ketika perang antar militan pro-kemerdekaan dan pro-otonomi menyebar kembali ke Manatuto. Saat itu lagi, bangunan ini menjadi korban api dan hangus terbakar. Dan sampai sekarang masih diam membisu.

* Mr. Joao Maria de Cristo Rei adalah pemilik tanah dimana kantor ini dibangun. Beliau adalah juga seorang penulis sejarah Manatuto. Kami di Fatin Historico sangat berterimakasih atas bantuannya dalam menulis artikel ini.

Artikel orisinil ditulis oleh Pedro Ximenes.



Tinggalkan Balasan