Episode 2: Pusat Kota Lama, Kecamatan Venilale

Pusat Kota Lama

Kecamatan Venilale, Baucau

Saya harus akui alasan dari ketertarikan saya ke bangunan yang cukup besar ini karena “keanehan” dari lokasi dan konteksnya: hangus dan habis dilumuti, dan berada di tengah-tengah lapangan dan lingkungan yang damai.

Kepergian militer Jepang di tahun 1945 setelah menduduki Timor Leste selama tiga tahun, menghasilkan suatu kekosongan kekuasaan yang langsung diisi kembali oleh militer Portugis. Menyadari pentingnya stabilitas di tanah jajahannya, mereka secepatnya memerintahkan pembangunan gedung yang diperuntukan sebagai kantor Kepala Camat dan titik pusat dari desa-desa di Venilale ini.

(video di akhir tulisan)

Kepala dari ke lima desa tersebut akhirnya membentuk suatu sistem berputar dan menyuruh warganya untuk membantu membangun gedung ini. Bahan bangunan yang digunakan adalah semen, batu, dan abu, dikarenakan buruknya akses ke bahan bangunan lainnya. Setelah beberapa tahun selepas selesainya konstruksi di tahun 1956, bangunan ini juga berfungsi sebagai rumah tamu (guesthouse) untuk tamu-tamu kehormatan.

Di tahun 1975, para anggota dari partai politik Fretilin menggunakan bangunan ini sebagai markas komando mereka untuk melancarkan pertempuran mereka melawan partai politik Timor Leste di Distrik Baucau yang lainnya. Mereka sempat menahan 25 anggota partai UDT dan APODETI di penjara selama sekitar 100 hari.

Pada tanggal 7 Desember 1975, militer Indonesia yang baru tiba langsung mengambil alih gedung ini dari Fretilin, dan menggunakannya sebagai markas mereka untuk memburu gerilyawan Fretilin. Ini terus berlanjut sampai tahun 1999 ketika referendum nasional memilih militer Indonesia untuk keluar dari Timor Leste. Gosong hitamnya kulit bangunan ini disebabkan oleh pembakaran yang dilakukan pada saat militer Indonesia keluar dari Timor Leste (harap dicatat bahwa ini belum tentu di lakukan oleh militer Indonesia).

Bagaimanapun juga, warga Venilale cukup menghargai keberadaan bangunan ini, terutama pada saat-saat yang stabil ketika bangunan ini berfungsi sebagai pusat aktifitas daerah. Pengaruh arsitektur Portugis di bangunan ini juga menambah sedikit gaya ke lingkungan perumahan sekitar. Anak-anak pun suka menghabiskan waktu bermainnya di sekitar gedung ini. Karena ini lah para warga lokal merasa kecewa karena bangunan ini sekarang terlihat (dan memang) terlantarkan.

Walaupun begitu, masih ada pengunjung (turis) ke Venilale yang tertarik untuk mempelajari sejarah dari bangunan ini, dan ini adalah bukti dari pentingnya keberadaan bangunan ini ke masyarakat Venilale di abad terakhir.

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bpk. Aleixo Ximenes untuk ceritanya.

*Ke lima desa tersebut adalah: Uatu-Haco, Bado-Ho’o, Badomori, Uai-Oli, dan Fatulia.



Satu Balasan untuk “Episode 2: Pusat Kota Lama, Kecamatan Venilale”

  1. Megan Power mengatakan:

    great to see the work you are doing Kamil – hope you can link up with the other Timor-Leste projects in development @UniMelb

Tinggalkan Balasan