Episode 3: Gua Tujuh, Kecamatan Venilale

Gua Tujuh

Kecamatan Venilale, Baucau

Kedatangan militer Jepang ke Thailand di Desember 1941, yang kemudian bergerak menuju Hindia Belanda, membawa Perang Dunia II ke Asia Tenggara dengan tujuan utama mengamankan sumber daya ekonomi dan, lebih penting lagi, materi untuk menjaga kekuatan perang mereka. Pada tanggal 19 Februari 1942, militer Jepang menjajah kepulauan Timor, yang mana pada saat itu masih dibawah koloni Belanda di sebelah Barat (kemudian menjadi Timor Barat dan bagian dari Indonesia) dan Portugal di sebelah Timur (kemudian menjadi Timor Leste), dan bertujuan untuk mengisolasi Australia dan Selandia Baru.

Masuknya Jepang mendapatkan perlawanan yang cukup sengit, walaupun sebentar, oleh dua batalion serdadu Australia: Gull Force dan Sparrow Force. Portugal, yang masih memegang Timor Leste sebagai koloni, berada dibawah tekanan Jepang untuk menjaga posisi Netral mereka (yang mana adalah posisi resmi Portugal pada saat PD II). Walaupun begitu, beberapa dari mereka dan penduduk lokal Timor Leste bergabung membantu tentara Sekutu melalui gerakan gerilya.

Jepang akhirnya tetap berhasil maju dan menduduki desa Uma-Ana-Ulu, Kecamatan Venilale, dan mereka memutuskan untuk menggali gua untuk tempat penyimpanan peralatan perang. Mereka menggunakan penduduk Timor yang mampu bekerja, dan mendatangkan mereka dari semua bagian Timor Leste. Dengan sistem kerja paksa, akhirnya Jepang mampu membuat tujuh gua (yang akhirnya menjadi nama area ini).

Pada bulan Agustus 1945, sesaat selepas pemboman Nagasaki, Jepang dipaksa untuk meninggalkan Timor dan melepaskan Gua Tujuh. Sehingga Venilale dan Timor Leste kembali di koloni oleh Portugal.

Beberapa dekade kemudian, selepas kepergian Portugal di akhir 1975, Venilale menjadi tempat pertempuran antara faksi pro kemerdekaan (ASDT, yang kemudian membentuk Fretilin) melawan faksi pro otonomi (UDT), dan Gua Tujuh menjadi tempat strategis pertempuran ini. Situasi ini berlanjut dengan keinginan mayoritas masyarakat Timor Leste untuk mendapatkan kemerdekaan penuh. Faksi ketiga, APODETI, yang mana menginginkan integrasi penuh ke Indonesia, semakin melemah. Akhirnya Indonesia pada tanggal 7 Desember 1975 masuk menjajah Timor Leste, dan mulai bergerak menuju Venilale. Selama tiga bulan, para gerilyawan berhasil untuk menahan militer Indonesia untuk melangkah lebih jauh. Tapi akhirnya mereka pun kalah juga, dan Indonesia bergerak menguasai seluruh Timor Leste. Gua Tujuh akhirnya jatuh ke tangan Indonesia.

Sekarang, Gua Tujuh menjadi situs bersejarah yang dikenal umum oleh masyarakat Timor Leste. Walaupun telah lama ditinggalkan, tempat ini masih menerima beberapa pengunjung. Untuk sebagian penduduk, gua ini mempunyai suatu status mistis dikarenakan makna historisnya dan keheningannya. Untuk sebagian yang lain, ada sebuah keinginan untuk restorasi dan perawatan gua-gua ini, dan mungkin menyulapnya menjadi sebuah tempat wisata.



Satu Balasan untuk “Episode 3: Gua Tujuh, Kecamatan Venilale”

  1. all 3 mengatakan:

    Wonderful ideas

Tinggalkan Balasan